Kerudung

bw

Malam semakin larut. Ina masih terjaga diatas kasur dipannya. Matanya sulit untuk diajak kompromi. Hanya bisa berbaring menanti datangnya pagi. Rambut ikalnya yang panjang digerai diatas bantal. Jari lentiknya memainkan ujung – ujung rambutnya yang hitam legam. Sekali – kali Ina menarik selimut merah hadiah dari ibunya keatas bahunya. Selimut tebal yang ia kenakan tampaknya tidak cukup membuatnya hangat malam ini. Hujan mengguyur kampungya seharian. Seakan membalaskan dendam setelah berminggu – minggu matahari selalu bersinar terik.

Ina membalikkan badannya menghadap dinding. Cat putih yang memulas rumahnya beberapa sudah ada yang mengelupas, menghitam atau dipenuhi coretan adik – adiknya yang masih berumur 6 dan 4 tahun. Diatasnya tergantung jam dinding bulat dengan gradasi warna merah marun yang ia peroleh dari hasil menabung berminggu – minggu. Ina selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Bukan dari orang tuanya tapi dari usahanya sendiri, apapun itu.

Ina kembali membalikkan badannya menghadap jendela. Diluar badai benar – benar sedang mengamuk. Deburan ombak terdengar kencang memecah bibir pantai. Rumahnya cukup dekat dengan laut, dengan berjalan kaki 10 menit pun sudah sampai. Bola mata Ina bergeser kesamping jendela, memandangai satu setel baju putih abu yang bertengger di punggung kursi belajarnya. Kemeja putih berlengan panjang dan rok abu – abu panjang baru saja Ina setrika sebelum tidur.  Tak ketinggalan jilbab putih dengan bordiran bunga – bunga kecil berwarna biru menambah serasi setelan seragam sekolahnya.

“Serius kamu mau pakai jilbab Na?” tanya ayah.

Ina mengangguk mantap.

Seusai makan malam biasanya Ina dan keluarga berkumpul bersama. Entah itu untuk berdiskusi atau sekedar mengobrol menceritakan kegiatan yang dilalui seharian. Kebiasaan ini dibawa semenjak Ina masih kecil hingga kini ia memeiliki dua orang adik yang lucu – lucu.

“Ibu sih tidak terlalu mempermasalahkan, yang penting kamu jadi anak yang sholeh, ya Na..”

“Aaamiin… ” Seru Ina.

Saat ini Ina telah memasuki tahun keduanya di SMA. Saat itu, peraturan sekolah menegaskan kepada para siswi yang beragama Islam untuk mengenakan jilab pada saat pelajaran agama. Bukan kepalang senangnya hati Ina. Sejak memasuki tahun pertamanya di SMA dia ingin sekali berjilbab. Menutup aurat seperti kawan – kawannya yang mulai berhijab.

Rasa takut dan khawatir tidak bisa mempertahankan jilbabnya menjadi penghalang terbesar baginya. Sering Ina lihat kawan – kawannya yang putri dengan mudahnya melepas jilbab yang dikenakan begitu masuk SMA atau naik kekelas dua. Ina tidak ingin seperti itu.

Meski begitu, sejak tahun pertamanya di SMA, Ina sudah mulai menyicil pakaian – pakaian panjang, seperti seragam sekolah, rok, celana panjang, kaus berlengan panjang juga  jilbab. Jadi ketika sudah berjilbab tidak perlu mendadak beli. “Kasihan ibu ma ayah” batinnya.

Ina kembali menatap langit – langit kamarnya yang terbuat dari serutan bambu, satu persatu dijalin membentuk anyaman kotak – kotak yang bersilangan.

“Ina, kok kerudungnya nggak dipake?” Tanya Dedi

“A..aada kok kerudungnya di rumah” Jawab Ina terbata.

Wajarlah hari ini Ina tidak mengenakan kerudungnya. Tidak ada jadwal pelajaran agama hari ini. Tapi entah kenapa pertanyaan yang sangat sederhana ini membuat Ina benar – benar terpukul dan amat sangat malu. Kenapa niat baik untuk segera berjilbab belum juga terlaksana hingga sekarang.

“Huwaaaa… aku maluuuu” Teriak Ina sambil mendekap bantal.

“Pokoknya, hari esok harus lebih baik dari hari ini! ” Tekad Ina sambil tersenyum.

Hujan telah pergi, tinggalkan gerimis satu – satu. Lantunan riang kodok di empang belakang rumah mulai memeriahkan malam. Jangkrik – jangkrik yang mulanya membisu turut menyumbangkan suara. Akhirnya Ina terlelap diibuai senandung malam yang riang.

One response to “Kerudung

  1. Pengalaman ya ni?
    Mo koment sedikit ya nie,,,
    Dilihat dari esensi dan pesan yang disampaikan, tulisan ini udah sangat bagus sekali. Pemilihan kata-katanya juga udah bagus dan dirangkai dengan bahasa yang cukup puitis, he3x,,, lebai ga seh??

    Tapi saya menemukan 1 masalah nih nie, saya koq kurang paham alur ceritanya ya? Trus saya juga tidak menemukan latar belakang dia memakai jilbab dan pertarungan dalam jiwa dia sehingga diamemutuskan untuk memakai jilbab.

    Udah dech itu aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s