Bersenandung dengan Alam

window-blind-pulls

Ku pandangi langit melalui jendela di kamarku. Mendung pagi masih menggelayut hingga siang, bahkan semakin tebal. Terangnya sang surya tak mampu menembus pekatnya kelabu. Hanya menyisakan berkas – berkas cahaya temaram. Angin dingin bertiup memainkan ujung – ujung gorden. Melambai perlahan mengikuti hembusan angin kemanapun ia mau.

Kamarku semakin gelap dan dingin. Diujung langit, halilintar bersahut – sahutan memanggil hujan tuk bermain bersama. Menjejak tanah kering yang berdebu. Membasahi dedaunan yang kelabu berdebu. Membersihkan atap kota penuh jelaga. Menghapus jiwa yang kelam bernoda. Meluluhkan amarah yang membara. Mendinginkan hati penuh bara. Menepis duka lara.

Gemericik air sungai selalu menemani hari – hariku, pagi, siang, dan malam. Jika musim kemarau airnya jernih sampai – sampai sampah di dasar sungaipun terlihat. Jika musim penghujan datang, airnya tumpah memenuhi kanal sungai. Warnanya coklat menerjang segala yang ada. Pernah, sebuah rumah di pinggir sungai hanyut terbawa aliran air yang begitu deras. Pohon pepaya yang tumbuh didekatnya seakan terhipnotis dan rubuh tak berdaya terbawa arus.

Jika senja tiba, sinar mentari tak segan menerobos kamarku. Menerjang lemari, tumpukan buku, kertas, meja, kursi, radio… menyisakan berkas jingga yang mewarnai ruang berukuran 2 x 3 meter. Indahnya… hangat terasa membelai wajahku.

Matahari semakin tergelincir ke ufuk barat. Selimut malam mulai dibentangkan menina bobokan alam. Bintang menjadi penerang, petunjuk arah bagi yang tersesat, pengingat dikala rindu, tempat menggantungkan harapan, guru bagi para ilmuwan. Meski mentari tak terlihat, sinarnya masih dapat terlihat melalui sang bulan. Meski tak indah rupanya, tapi sinarnya begitu lembut membelai alam, menerangi semak – semak tempat jangkrik bernyanyi dan menemani katak bermain di air.

Gelap semakin pekat, sunyi merayapi kota – kota yang mulai kelelahan. Lampu – lampu kamar mulai padam, jalan mulai lengang. Pasukan ronda mulai berkeliling. Di zaman yang semakin gila ini jasa mereka begitu berarti, tapi sering terabaikan.

Gemerisik air semakin deras, mungkin karena hujan tadi siang. Kini tinggallah kabut malam yang dingin menyelimutiku. Beku diatas pembaringan. Sendiri, menerawang atap putih. Menjelajah dunia penuh imajinasi.  Menerawang hasrat yang terpendam perih. Mengusik rasa yang sempat singgah, kadang muncul kadang menghilang. Menyentuh dasar hati membangkitkan rindu tak terperi. Entah mengapa ku begini, terkapar dalam buih.

Kupejamkan mataku dan kulihat wajahnya. Tak rupawan tapi menawan. Memenjarakan hatiku di awan. Ya… aku terpenjara, dalam cinta penuh duka. Dalam rindu penuh siksa. Dalam desah penuh harap.

Setidaknya aku masih waras, meski sempat buta karena cinta. Tapi, ada satu cinta diatas cinta… cinta pada Sang Pemilik Cinta.

Hahaha, setidaknya aku bisa mentertawakan diriku. Aku terhanyut dalam nuansa cintaNya. Hidup ini hanyalah senda gurau semata. Akhiratlah tempat yang kekal. Semua kan indah pada saatnya.

4 responses to “Bersenandung dengan Alam

  1. hahahahaha…. haduh,,, jadi geli sendiri kalo ngebaca lagi ni tulisan. geje abizzz….! hihihihih…. hahahaha….😀

  2. Aneh,, nulis sendiri koq komentar sendiri? Masih kurang pede ya? Tapi tulisannya cukup bagus koq,,

    oh iya, saya mo minta maaf atas kejadian yang waktu itu. Aku sudah dapat jawabannya…

  3. hm…berterimakasihlah pada tante…karena membangun kamar ukuran 2 x 3 m yang kemudian kau tempati…:P

  4. @ Krishna : hehe,,, iya agak g pede. Sudah Na,,, g usah di ungkit lagi, gpp kok. Santai aja🙂

    @ Reni : hahaha, iya Ren. beruntung aku jadi pewaris kamar ini😀 Makasih tante… :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s