New Year 2009

moon-walk

Sejak sore aku berkutat didepan laptop. Entah membuat tulisan, kirim – kirim email, menjelajah blog teman – teman, baca cerbung, chatting, download musik… mumpung internetnya lagi mau diajak kompromi.

Tahun baruan kali ini nggak kemana – mana, hanya di dalam kamar, tanpa pesta, perayaan, jalan – jalan… tapi aku benar – benar menikmatinya. Sejak kemarin kondisiku memang sedang tidak vit. Kuhabiskan siangku dengan tidur, istirahat. Cukuplah dengan minum air yang banyak, makan vitamin C dan istirahat.

Malampun semakin beranjak. Suara – suara diluar terdengar semakin ramai saja. Petasan mulai bersahutan dari ujung ke ujung. Meski aku benci petasan, untuk malam ini aku sangat menikmatinya. Dari suaranya saja aku bisa membayangkan betapa meriahnya perayaan diluar sana (dasar orang auditorial). Banyak orang berlalulalang sibuk dengan tiupan terompetnya, makanan melimpah, ngumpul bareng teman – teman sambil bakar – bakaran, nonton kembang api, nonton konser… dll.

Disela keramaian itu pun ada juga yang menyibukkan dirinya dengan Al-Qur’an, mengikuti ceramah di masjid – masjid, atau berkutat dengan lembar – lembar evaluasi hidupnya, dengan munajat padaNya…

Tapi satu hal yang luar biasa di malam tahun baru adalah semua harapan penduduk bumi memancar dari kedalaman hatinya. Harapan – harapan itu menggantung di langit berharap semuanya bisa dikejar dan di genggamnya erat – erat ditahun 2009 ini.

Malampun semakin menapaki puncaknya. Meski jam dikosanku belum menunjukkan pukul 00.00 tapi desingan kembang api yang meluncur kemudian disusul ledakannya pun mulai beraksi. Percikan api yang indah membuncah di angkasa, menerangi langit malam yang gelap. Suara terompet bersahutan di kejauhan menyambut tahun baru dengan semangat. Ucapan ‘Happy New Year’, ‘Selamat Tahun Baru’ mengalir dari satu mulut ke mulut, email, milis, kartu, SMS, telefon…

Hhh… aku sangat menikmatinya

Tapi… entah kenapa suara – suara itu berubah jadi mencekam. Aku takut…

Mungkin suara – suara ini yang membuat gadis kecil bersembunyi dalam pelukan ibunya. Membuat ayah bersiap siaga dengan senjata dipundaknya. Membuat otaknya memikirkan berbagai strategi untuk setiap kemungkinan terburuk yang akan menimpa keluarganya.

Muntahan peluru seakan tak mau berhenti meski hanya sejenak. Bom – bom yang diluncurkan pun tak kenal arah meratakan segala yang tegak. Ia tak mengenal benda mati atau mahluk hidup. Suara terompet bagaikan sirine peringatan di camp – camp pengungsian. Teriakan selamat tahun baru bagaikan teriakan takbir yang memenuhi malam dengan semangat jihadnya, bagaikan erangan kesakitan yang mengantarkan pada kesyahidan…

My Palestine…

Kapan perang ini akan berakhir…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s