Mendung di Ujung Timur

Masa penerimaan mahasiswa baru benar – benar memberikan warna yang berbeda tahun ini. Terlalu banyak mendung mengelayuti langit. Meredupkan mentari yang biasanya bersinar terang menghangatkan bumi yang kedinginan setelah berselimut malam. Mengusir kabut yang menjamah setiap jengkal pandangan mata.

“Buu..Pak.. pergi dulu yaa… Assalamu’alaikuuuuum”

“Wa’alaikum salam, hati – hati ya Nak…”

Dengan berbekal harapan dan uang Rp 3000 di kantong, Adik (bukan nama yang sebenarnya) mengayuh sepeda bututnya menuju pendopo di jantung Kota Mangga. Semangatnya untuk bisa meneruskan sekolah ke sebuah universitas tak terbendung lagi. Kini, gerbang itu telah terbuka lebar di depan mata. Tinggal satu jengkal lagi untuk bisa memasukinya. Kayuhan sepeda bututnya merupakan pancaran dari serpihan harapan itu. Status sebagai calon mahasiswa yang kini telah disandang membuatnya semakin kuat menggenjot pedal sepeda.

Setelah sampai di pendopo, disandarkannya sepeda ke batang pohon mangga. Orang yang di tunggu – tunggu belum muncul juga. Adik hanya bisa mondar – mandir di sekitar pendopo, menunggu.

Waktu berjalan tanpa memperdulikan Adik yang perutnya mulai berteriak minta diisi. Uang Rp 3000 di sakunya hanya cukup untuk membeli kue dan minum sekadarnya untuk membungkam perut yang mulai rewel. Ternyata hati dan otaknya pun mulai berontak. Menunggu memang bukan pekerjaan yang menyenangkan!

Orang yang sudah membuatnya berani bermimpi ternyata belum muncul juga. Terik siang di daerah pantura sangat menyengat sekali. Udara panas yang mengalir membuat orang – orang malas untuk keluar rumah meski hanya untuk melongokkan kepalanya melihat keadaan di luar.

Adzan dzuhur pun berkumandang. Mengajak orang – orang untuk menghadap kehadapan Sang Pemilik Jagat. Ternyata air wudlu memang bisa mendamaikan hati dan otak yang sedari tadi berontak. Segala keluh kesah ia tumpahkan dalam sujud yang panjang. Segala harapan dan impian ia curahkan padaNya, memohon agar Allah berkenan mewujudkan impiannya. Kepasrahan yang begitu mendalam terpancar dari sudut matanya yang tergenang air mata.

Kedua orang tuanya bukanlah orang yang mampu membiayai Adik untuk kuliah. Sekolah SMA tempat dimana Adik menuntut ilmu pun tidak bisa membantu. Dinas pendidikan pun tampaknya tidak terlalu peduli untuk segera mencairkan beasiswa meski waktu pendaftaran ulang mahasiswa baru sudah lewat berhari – hari (nyaris berminggu – minggu). Satu – satunya harapan yang bisa membantu hanyalah orang itu, Pak Bupati.

“Bapaaa…k…Pak Bupatiii…. Saya ingin bicara…” Adik berseru memanggil. Polisi pamong praja yang mengamankan Pak Bupati malah menghardik dan mengusir Adik.

“Bapaak… Saya mau minta uang untuk registrasi ke Universitas…!!!”

“Bapaak… Paak… Saya mau minta uang untuk registrasi Pak…!!!”

Dengan wajah tanpa dosa, ajudan Pak Bupati memberikan selembar uang kertas kedalam genggaman Adik.

Bayang – bayang semakin memanjang kearah timur. Semburat orange mulai menghias langit. Adik hanya bisa tersenyum kecut sembari menghela nafas panjang menatap uang Rp 10.000 di tangannya.

NB : Based on true story + fiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s